THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 11 September 2008

Nafsu Makan Kurang

Jika si kecil tidak sedang ada masalah dengan fisik atau kesehatannya namun nafsu makannya kurang cobalah untuk mengupayakan beberapa hal ini:

  • Jangan panik, tetaplah untuk sabar dan tenang.
  • Berikan saja makanan dalam porsi yang sedikit namun lebih sering dalam pemberiannya.
  • Pilih makanan lengkap gizi yang dihidangkan dalam satu jenis makan (one dish meal).
  • Menciptakan suasana makan yang menyenangkan.
  • Anak umumnya tertarik untuk mencoba mencicipi makanan yang berbeda dengan yang ada dipiringnya. Pada kesempatan ini, Anda dapat menyediakan berbagai makanan lain yang mungkin menarik untuk dicicipi olehnya.
  • Sajikan makanannya dengan lebih menarik, misalnya nasi tim yang dibentuk menyerupai wajah badut atau boneka.
  • Tempatkan makanan dan minuman di peralatan makan yang lebih menarik misalnya dengan menggunakan piring atau cangkir bergambar hewan atau mainan kesukaannya.
  • Makan bersama yang menyenangkan berselera diharapkan dapat menggugah semangatnya untuk makan seperti anggota keluarganya.

Namun jika selera makan anak terus menurun dengan berbagai upaya yang telah Anda lakukan, periksakan ke dokter mungkin perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.

Meniru Cara Belajar Anak

Keteladanan, kata ini digemari dalam wacana, namun banyak dibantah dalam perilaku. Kata ini seperti ringan diucapkan, namun amat sangat berat dijalankan. Mungkin juga termasuk sebuah konsep yang paling sering di-silat-lidah-i oleh para orangtua yang tak terima ketika digugat oleh kaum muda. Qudwah, yang sering langsung diterjemahkan sebagai keteladanan, merupakan salah satu Metode Pendidikan Islam yang paling efektif. Qudwah juga merupakan salah satu perilaku Nabi Muhammad SAW. Perilaku beliau SAW tak pernah menyalahi apa yang beliau ajarkan.

Yah, di situlah intinya, Qudwah artinya, perilaku si pendidik tidak menyalahi atau tidak bertentangan dengan apa yang ia ajarkan kepada anak didiknya.

Suatu sore seorang ayah marah pada anaknya yang kedapatan berbohong padanya. Si anak mengaku pagi itu ia pergi ke rumah neneknya, padahal kemudian ketahuan ia sebenarnya ke warnet. Si anak yang sudah remaja, tak tampak menyesal dimarahi orangtuanya. Mengapa?

Suatu sore lain di masa lalu anak itu, si ayah mendengar pintu diketuk dari luar, si anak disuruh melihat ke jendela dan melaporkan siapa gerangan yang datang. Ternyata teman kantor sang ayah. Si anakpun melapor: ”Pak Fulan, Yah. Aku bukakan pintu ya?”. Serta merta si ayah menyilang telunjuknya ke bibir dan bicara perlahan tapi tegas: ”Ssst! Jangan keras-keras, jangan ketahuan ayah ada di rumah, bilang padanya ayah pergi!” Si anak memandang heran, tapi sang ayah segera menukas:” Sudah jangan banyak tanya, bilang saja begitu!”.

Dapat kita bayangkan, jika kejadian semisal ini sering terjadi, maka sang anak sebenarnya dibesarkan dengan qudwah yang salah. Ayahnya mengharapkan ia tumbuh menjadi pemuda jujur, namun sebagai ayah ia sendiri tidak memberi contoh sebagai sosok yang jujur. Sebaliknya, ia malah lebih dahulu mengajarkan anaknya untuk berbohong.

Di pojok lain di atas dunia ini, seorang ayah menasehati anaknya dengan keras untuk tidak menonton film xxx (film porno). Sang ayah baru mendapat laporan dari sekolah anaknya yang SMA, bahwa si anak kedapatan membawa vcd xxx tersebut di dalam tas sekolahnya. Karena pihak sekolah memberikan hukuman ”merumahkan” si anak, maka ayahnya merasa perlu menasehati anaknya. Tapi apa kata si anak: ”Papa sendiri juga punya ’kan, bahkan ini salah satu koleksi Papa”. Apa jawab ayahnya: ”Lha! Wah kamu kurang ajar dua kali, berarti kamu mencuri benda itu dari tempat Papa ya?”. Kali ini suaranya merendah, sebab ia tak mau isterinya mendengar pembicaraan ini.

Apa anehnya bagi kita jika si remaja SMA ini kemudian juga keranjingan nonton film mesum, jika ia tahu bahwa ayahnya (yang seharusnya menjadi tokoh panutan baginya) juga melakukan dosa yang sama. Apakah ada pembenarannya bahwa seorang bapak boleh menonton film mesum sementara anak tak boleh?

Ehem-ehem, ini kritikan kecil untuk tuan-tuan dan puan-puan di KPI (Komite Penyiaran Indonesia), hendaknya tontonan kekerasan dan kemesuman juga dilarang bagi acara orang dewasa, apalagi mereka yang punya anak. Jadi jangan cuma melarang yang jam tayangnya masih jam anak menonton, tapi hendaknya menghapus semua tontonan seperti itu. Sama sekali tidak memberikan keteladanan bagi anak-anak.

Masih ada yang heran mengapa anak sekarang kecil-kecil sudah merokok, kemudian agak gede sedikit jadi ng-gele (narkoba)? Mengikut pepatah yang ”Guru...(sensor) berdiri, murid...(sensor) berlari”, maka jika si orang tua dulu tahun 1980-an merokok pada usia 15 th, maka anaknya di tahun 2008-an ini merokok di usia 7-10 th. Lebih canggih dari orangtuanya dong, karena begitu tabiatnya.

Jangan heran jika seorang anak menjadi pecandu narkoba jika ternyata ayahnya perokok.

Itulah tabiat dari metode pendidikan yang paling efektif ini. Qudwah artinya, anak didik kita akan segera mengikuti APA YANG KITA LAKUKAN, bukan APA YANG KITA KATAKAN.

Pernah lihat balita lucu gemas menyanyi lagu cinta, atau itu tuh dulu, lagunya mantan Ratu: Teman Tapi Mesra? Apa sih yang dimengerti anak 4 tahun tentang lirik lagu tersebut? Tapi siapa bilang anak usia itu tak bisa melantunkannya, komplit dengan nada? Meniru.

Meniru adalah cara awal manusia belajar, termasuk belajar bahasa. Meniru juga termasuk cara belajar skill. Misalnya belajar berenang dan naik sepeda, bukankah kita menyuruh anak meniru gerakan kita?

Memang ada peniruan yang harus disesuaikan dengan usia, misalnya, seorang anak yang berumur 7 tahun kita larang menyetir mobil karena ”belum cukup umur”. Namun orangtua harus mampu mengkomunikasikan mengapa pada usianya sekarang ia dilarang belajar menyetir mobil, misalnya dengan menerangkan tentang kakinya yang masih terlalu pendek untuk mencapai pedal gas dan rem di ruang kemudi bagian bawah. Jadi memang ada hal yang kita boleh lakukan namun anak belum boleh melakukannya. Tapi ini harus jelas diterangkan kepada anak agar ia tidak menuduh kita asal melarang.

Jika yang dilakukan adalah suatu set perilaku sosial seperti misalnya berbohong tadi, maka sama saja. Yang sebenarnya terjadi adalah peniruan yang dikembangkan, artinya si anak tidak meniru persis, tapi meniru kemudian memperluas.

Masih adakah para orangtua yang heran mengapa seorang anak tetap melakukan apa yang dilarang, jika saja orangtua tersebut sadar bahwa ia sendiri melakukan apa yang ia larang untuk anaknya?

Memilih Susu Pertumbuhan untuk Anak

Pertumbuhan tak hanya sampai bayi namun berlangsung dari balita hingga akhir akil balik. Khususnya periode balita adalah masa yang relatif singkat, namun sarat akan proses pertumbuhan. Gizi adalah faktor lingkungan yang ikut menentukan suksesnya pertumbuhan.

Masalah Makanan

Upaya untuk mencukupi kebutuhan gizi dan menerapkan pola makan yang baik tidak selamanya berjalan mulus. Masalah makan ini biasanya muncul pada anak yang mulai diberikan makanan padat. Bila Anda menghadapi masalah tersebut, segera cari faktor-faktor yang mungkin menjadi penyebabnya. Setelah dapat mengidentifikasi faktor penyebabnya, lakukanlah evaluasi dan dampak nutrisi. Lakukan upaya-upaya perbaikan nutrisi dan mengatasi faktor penyebabnya, bila perlu mintalah bantuan orang yang ahli di bidang yang sesuai dengan masalah yang dihadapi anak.

Alergi Makanan

Sistem pencernaan bayi masih tergolong sensitif. Makanya, MPASI harus diberikan secara bertahap dan pada usia <>

Hentikan segera pemberian makanan bila bayi menunjukkan gejala-gejala alergi. Konsultasikan ke dokter bila bayi menunjukkan gejala-gejala alergi. Konsultasikan ke dokter bila bayi menunjukkan gejala-gejala di atas setelah makan makanan baru atau makanan tertentu.

Menolak Untuk Makan

Adakalanya bayi tiba-tiba sulit untuk makan yang ditunjukkannya dengan berbagai cara, antara lain: dengan merapatkan mulutnya, mendiamkan, mengemut, menyembur atau mempermainkan atau juga dengan memuntahkan makanannya. Cobalah untuk mencurigai hal ini dengan memeriksa kondisi bayi. Bisa jadi ia sedang sakit, tumbuh gigi, sariawan atau sedang sakit perut. Ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan, selain mengupayakan mengatasi masalah yang sedang dialaminya:

  • Bersabarlah dan beri si kecil waktu dan semangat untuk makan.
  • Hiburlah si kecil dengan permainan imajinatif dan jadikan saat makan menjadi saat yang menyenangkan bagi bayi.
  • Tetap berikan ASI selama bayi Anda masih mau. Kandungan gizi dalam ASI cukup dapat memenuhi kebutuhan gizinya. Jangan memaksa bayi untuk makan. Selera makannya akan kembali setelah ia sembuh.
  • Cobalah untuk memberikan makanan dengan sendok dalam tekstur yang lembut hingga mudah ditelan.
  • Bersikap santai dan jangan kecewa bila si bayi menolak untuk makan. Bayi dapat merasakan kekecewaan atau rasa tegang tersebut, sehingga akan mempengaruhi suasana hatinya.

Suka Ulang Kata

Memasuki usia 2,4 tahun, anak saya sudah menguasai banyak kosa kata. Namun akhir-akhir ini dia sering mengulang-ulang kata dan kesulitan mengungkapkan sesuatu. Kadang-kadang saya mengagetkannya supaya bicaranya jelas. Apakah ini tanda dia gagap?

Gagap pada usia 2 tahun umumnya karena mereka masih sulit mengatur apa yang ia pikirkan dan bagaimana harus menyampaikannya pada orang lain. Hal ini membuat anak cenderung mengulang-ulang perkataannya atau terbata-bata bicara.

Saya kurang jelas dengan maksud Anda mengagetkan anak supaya bicaranya jelas. Tapi perlu diingat kondisi terbaik untuk melatih anak bicara adalah dalam suasana yang nyaman, tanpa tekanan atau paksaan orang tua.

Ketika anak tergagap, usahakan Anda tidak panik dalam membantunya mengungkapkan sesuatu. Selain itu, jangan lupa memberikan pujian jika anak berhasil berbicara dengan jelas dan tidak mengulang-ulang kata.

Anak perlu merasakan pengalaman berhasil untuk mengetahui hal yang diharapkan orang dewasa pada dirinya. Namun jika keadaan berlanjut, sebaiknya segera Anda periksakan anak ke dokter anak atau psikolog untuk mengetahui penyebab dan upaya mengatasi hal tersebut.

Perkembangan Psikologis Balita

TAHAP-TAHAP

Usia 0-6 bulan - Attachment (kelekatan) terhadap ibu, tergantung secara total pada ibu atau care giver, membangun rasa percaya (trust).

Usia 6-12 bulan - Berpisah dari ibu (usai ASI eksklusif), mulai mengembangkan sense terhadap diri, suka bercermin.

Usia 1-18 bulan - Perkembangan sosial dini, egosentris, mengembangkan rasa percaya diri, bermain secara mandiri.

Usia 18-36 bulan - Masanya belajar kemandirian, belajar cara memenuhi kebutuhan diri, membutuhkan persetujuan orang tua, menunjuk benda yang diinginkan, belajar bergiliran dengan bantuan orang dewasa, belajar berbagi, cemas jika ditinggal (separation anxiety).

Usia 3-5 tahun - Mulai bisa diajak bekerjasama, tetapi belum mampu membedakan fantasi dengan realita. mengalami sambil mengatasi beragam emosi (sedih, cemburu, gembira, dll). Bisa berinteraksi dengan anak lain dengan memperhatikan detail, ruang dan waktu.